November 06, 2009

GUNUNG GAMBAR DI NGAwEN


Gunung Gambar di Kecamatan Ngawen, Gunung Kidul, menyimpan sejarah Yogyakarta-Surakarta. Warga Ngawen yang dulunya merupakan rakyat Surakarta memilih bergabung di bawah kekuasaan Kasultanan Yogyakarta. Namun, petilasan Raja Surakarta seperti Pangeran Samber Nyawa masih dipelihara oleh warga. 
Selain dikenal sebagai petilasan Pangeran Samber Nyawa, Gunung Gambar menyimpan sejarah tentang Kyai Gading Mas, tetua cikal bakal desa. Seusai kemerdekaan Indonesia tahun 1945, warga Ngawen diharuskan memilih menjadi rakyat Yogyakarta atau Surakarta.
Meski menyimpan sejarah panjang sebagai bagian dari kerajaan Surakarta, dalam rapat besar kala itu, warga memilih bergabung dengan Yogyakarta. Jika harus ikut Surakarta, status tanah kami hanya gaduh (hak pakai). Kami memilih punya tanah hak milik yang diakui Yogyakarta.

Menjadi bagian dari Yogyakarta bukan berarti memutuskan rantai keterikatan dengan Surakarta. Apalagi Pangeran Samber Nyawa sempat melarikan diri dari kejaran Belanda ke Ngawen, tepatnya di Gunung Gambar. Di tempat itu, konon, pangeran dari Surakarta tersebut bertapa lebih dari setengah tahun di Gunung Gambar.
Selama bertapa Samber Nyawa menyusun strategi penyerangan terhadap Belanda. Tempat pertapaan itu kini hanya tersisa berupa batuan- batuan besar di atas bukit. Bekas berupa empat tapak kaki di batuan keras yang diyakini milik Samber Nyawa masih bisa dilihat hingga sekarang. Selain itu ada tapak kaki kuda sebagai kendaraannya.
Pangeran Samber Nyawa sempat menyusun strategi peperangan dengan menggambar peta serangan di atas bukit itu sehingga dikenal sebagai Gunung Gambar. Seusai bertapa, Pangeran Samber Nyawa memulai peperangan melawan Belanda dari Wonogiri.
Di Wonogiri Samber Nyawa berjumpa dengan seorang janda yang menjamu makanan bubur panas. Janda tersebut mengajari tentang cara memakan bubur panas harus dimulai dari pinggir sebelum menghabiskan bagian tengahnya. Lalu, muncullah ide strategi perang dengan menghancurkan musuh dari pinggir baru ke tengah.
Meski menyimpan cerita sejarah, Gunung Gambar bagi anak-anak tetap hanyalah sebagai salah satu area bermain.
Bertapa Sekilas dilihat dari kaki bukit, puncak dari bukit batu yang dikenal sebagai Gunung Gambar ini seperti tak terdaki, hanya tonjolan batuan berwarna hitam di atas bukit. Namun, setelah melewati pintu gerbang bergaya Surakarta, terdapat jalan setapak menuju puncaknya.
Sejak Samber Nyawa bertapa di Gunung Gambar, dusun di sekitar bukit tersebut diganti sebutan menjadi Dusun Gunung Gambar dari sebelumnya Dusun Gempol. Gunung Gambar sempat ramai dikunjungi ketika masa Orde Baru, terutama karena ibu negara Tien Soeharto yang berasal dari Surakarta cukup memberikan perhatian bahkan membantu pembangunan gapura bagi petilasan Samber Nyawa.
Jika pada masa Orde Baru keramaian pengunjung digambarkan lebih ramai dari pasar malam.Mereka yang berkunjung biasanya orang-orang yang ingin mencari pengayoman. Tempat ini mulai ramai pada satu Sura atau saat tahun baru. Saking sepinya, tempat loket tiket sudah hampir ambruk dan tak lagi digunakan. Beberapa pengunjung sembari membawa bunga mawar tabur datang untuk meminta pengabulan aneka permohonan. Petilasan Pangeran Samber Nyawa diyakini bisa memberi berkah berupa kedudukan dan kekuasaan. Sementara petilasan Kyai Gading Mas dipercaya bisa memberikan kekayaan.
Biasanya yang dapat kekayaan dan kehormatan itu adalah mereka yang datang dari tempat jauh. Bagi kami, warga sekitar, cukuplah perlindungan, kesehatan, dan keamanan yang selama ini sudah kami rasakan, sebagai bentuk ucapan terima kasih terutama bagi leluhur Kyai Gading Mas, warga biasa melaksanakan upacara nyadranan setiap satu tahun sekali.

Tidak ada komentar: