November 06, 2009

HUTAN WONOSADI DI NGAWEN



Hutan Wonosadi terletak di Dusun Duren dan Dusun Sidorejo, Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi tersebut berbatasan langsung dengan Kabupaten Klaten Jawa Tengah.
Hutan Wonosadi atau dulu sering disebut hutan Wonosandi yang artinya hutan rahasia atau hutan larangan karena dianggap angker oleh masyarakat sekitar hutan. Hutan tersebut sekarang disebut hutan adat oleh masyarakat setempat.
Setiap tahun masyarakat melakukan upacara Sadranan. Upacara adat tersebut diadakan setelah panen padi pada Senin Legi atau Kamis Legi.

Desa Beji terletak di Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DIY. Desa Beji memiliki luas 725,88 Ha, dengan jumlah penduduk 4.652 jiwa terdiri dari penduduk laki-laki 2.289 jiwa dan perempuan 2.363 jiwa.
Hutan Wonosadi merupakan hutan adat. Sebutan hutan adat merupakan persepsi masyarakat di sekitar hutan tersebut. Selama ini mereka menggunakan hutan adat tersebut untuk upacara adat (Sadranan).
Secara fisik Hutan Wonosadi sebagai zona inti seluas 25 hektare ditopang dengan zona penyangga seluas 28,7 hektare (. Zona inti merupakan tanah Oro-oro (OO), sedangkan zona penyangga merupakan tanah hak.
Masyarakat memperoleh manfaat langsung berupa sumber air yang mengalir sepanjang musim. Kecukupan air tersebut dipergunakan untuk kebutuhan keluarga dan pertanian.
Hutan adat tersebut menyimpan keanekaragaman hayati. Selain itu Hutan Wonosadi memiliki pemandangan yang indanh. Ditambah legenda lokal yang menarik.

GUNUNG GAMBAR DI NGAwEN


Gunung Gambar di Kecamatan Ngawen, Gunung Kidul, menyimpan sejarah Yogyakarta-Surakarta. Warga Ngawen yang dulunya merupakan rakyat Surakarta memilih bergabung di bawah kekuasaan Kasultanan Yogyakarta. Namun, petilasan Raja Surakarta seperti Pangeran Samber Nyawa masih dipelihara oleh warga. 
Selain dikenal sebagai petilasan Pangeran Samber Nyawa, Gunung Gambar menyimpan sejarah tentang Kyai Gading Mas, tetua cikal bakal desa. Seusai kemerdekaan Indonesia tahun 1945, warga Ngawen diharuskan memilih menjadi rakyat Yogyakarta atau Surakarta.
Meski menyimpan sejarah panjang sebagai bagian dari kerajaan Surakarta, dalam rapat besar kala itu, warga memilih bergabung dengan Yogyakarta. Jika harus ikut Surakarta, status tanah kami hanya gaduh (hak pakai). Kami memilih punya tanah hak milik yang diakui Yogyakarta.

Menjadi bagian dari Yogyakarta bukan berarti memutuskan rantai keterikatan dengan Surakarta. Apalagi Pangeran Samber Nyawa sempat melarikan diri dari kejaran Belanda ke Ngawen, tepatnya di Gunung Gambar. Di tempat itu, konon, pangeran dari Surakarta tersebut bertapa lebih dari setengah tahun di Gunung Gambar.
Selama bertapa Samber Nyawa menyusun strategi penyerangan terhadap Belanda. Tempat pertapaan itu kini hanya tersisa berupa batuan- batuan besar di atas bukit. Bekas berupa empat tapak kaki di batuan keras yang diyakini milik Samber Nyawa masih bisa dilihat hingga sekarang. Selain itu ada tapak kaki kuda sebagai kendaraannya.
Pangeran Samber Nyawa sempat menyusun strategi peperangan dengan menggambar peta serangan di atas bukit itu sehingga dikenal sebagai Gunung Gambar. Seusai bertapa, Pangeran Samber Nyawa memulai peperangan melawan Belanda dari Wonogiri.
Di Wonogiri Samber Nyawa berjumpa dengan seorang janda yang menjamu makanan bubur panas. Janda tersebut mengajari tentang cara memakan bubur panas harus dimulai dari pinggir sebelum menghabiskan bagian tengahnya. Lalu, muncullah ide strategi perang dengan menghancurkan musuh dari pinggir baru ke tengah.
Meski menyimpan cerita sejarah, Gunung Gambar bagi anak-anak tetap hanyalah sebagai salah satu area bermain.
Bertapa Sekilas dilihat dari kaki bukit, puncak dari bukit batu yang dikenal sebagai Gunung Gambar ini seperti tak terdaki, hanya tonjolan batuan berwarna hitam di atas bukit. Namun, setelah melewati pintu gerbang bergaya Surakarta, terdapat jalan setapak menuju puncaknya.
Sejak Samber Nyawa bertapa di Gunung Gambar, dusun di sekitar bukit tersebut diganti sebutan menjadi Dusun Gunung Gambar dari sebelumnya Dusun Gempol. Gunung Gambar sempat ramai dikunjungi ketika masa Orde Baru, terutama karena ibu negara Tien Soeharto yang berasal dari Surakarta cukup memberikan perhatian bahkan membantu pembangunan gapura bagi petilasan Samber Nyawa.
Jika pada masa Orde Baru keramaian pengunjung digambarkan lebih ramai dari pasar malam.Mereka yang berkunjung biasanya orang-orang yang ingin mencari pengayoman. Tempat ini mulai ramai pada satu Sura atau saat tahun baru. Saking sepinya, tempat loket tiket sudah hampir ambruk dan tak lagi digunakan. Beberapa pengunjung sembari membawa bunga mawar tabur datang untuk meminta pengabulan aneka permohonan. Petilasan Pangeran Samber Nyawa diyakini bisa memberi berkah berupa kedudukan dan kekuasaan. Sementara petilasan Kyai Gading Mas dipercaya bisa memberikan kekayaan.
Biasanya yang dapat kekayaan dan kehormatan itu adalah mereka yang datang dari tempat jauh. Bagi kami, warga sekitar, cukuplah perlindungan, kesehatan, dan keamanan yang selama ini sudah kami rasakan, sebagai bentuk ucapan terima kasih terutama bagi leluhur Kyai Gading Mas, warga biasa melaksanakan upacara nyadranan setiap satu tahun sekali.

DESA BEJI JADI TEMPAT WISATA



Menurut sejarah kelestarian hutan di Wonosadi menjadikan desa di sekitar hutan tersebut termasuk Desa Beji menjadi desa wisata yang memiliki keindahan alam mempersona.






"Ketekunan masyarakat dalam melestarikan lingkungan telah menjadikan hutan adat Wonosadi menjadi tempat berkembangnya aneka flora dan fauna," katanya.






Menurut dia, hutan seluas 25 hektare di Desa Beji, Kecamatan Ngawen itu telah dikembangkan menjadi produk wisata serta laboratorium alam untuk penelitian aneka flora dan fauna.






"Di hutan Wonosadi ada puluhan jenis tumbuhan termasuk yang langka seperti bunga bangkai (amorphophallus titanum) berwarna putih dan anggrek tanah (pecteilis susannae)," katanya.






Selain itu juga ada hewan langka dan dilindungi seperti elang bido, elang jenis alap-alap, belalang merah, dan kelompok tawon gung. "Satwa tersebut hidup nyaman dalam rimbunnya pepohonan yang sebagian di antaranya telah berusia ratusan tahun," katanya.






Sementara itu, tokoh masyarakat adat sekitar Hutan wonosadi, Sudiyo, mengatakan masyarakat di sekitar Wonosadi percaya bahwa hutan ini merupakan warisan yang harus diberikan pada anak cucu, karena itu mereka wajib melestarikannya.






"Legenda dan mitos yang menaungi hutan Wonosadi membuat masyarakat terus menjaga kelestariannya terutama untuk diwariskan pada generasi mendatang," katanya.






Ia menjelaskan, berdasarkan pendataan yang pernah dilakukan berbagai instansi, setidaknya di hutan ini terdapat 43 jenis tanaman, 19 tumbuhan obat serta beberapa jenis jamur. "Terdapat juga beberapa jenis burung langka, amfibi, reptil, mamalia, dan serangga," katanya.






Menurut Sudiyo, ada juga elang jawa dan elang bodol di hutan Wonosadi. "Namun keberadaan dua jenis burung tersebut saat ini tidak bisa ditemui lagi, mungkin burung tersebut telah bermigrasi," katanya.






"Masyarakat adat di sekitar hutan Wonosadi masih percaya bahwa warga harus melestarikan hutan Wonosadi berdasar perintah yang diberikan Onggoloco, yakni putra salah seorang selir Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit yang melarikan diri dari kejaran pasukan Kerajaan Demak, dan pernah hidup di hutan ini," katanya.